Ini adalah cerita pribadi dan tentu nyata. Dibuat jujur waktu ada tugas kuliah, hehe ..
Diminta menuliskan pengalaman pribadi dengan konsep paragraf naratif, terbuatlah cerita ini :)
Sengaja diposting kembali, agar bisa diambil hikmah dari cerita ini, happy reading :)
Akulah Aku, Satu-Satunya
Inilah aku, anak tunggal dari pasangan saling berkasih sayang yang kupanggil "mamah" dan "bapak". Besar sekali harapku untuk mendapat seorang adik yang akan meramaikan hari-hari keluarga kecilku. Ternyata Tuhan mendengar harap hamba-Nya ini. Suatu siang yang terik, kudapati kabar bahwa ibuku positif dinyatakan mengandung dua bulan. Aku terpana dan membuncah rasa bahagiaku mendengar kabar itu. Sejak saat itu, kumulai beritahukan kabar gembira ini kepada rekan-rekan, sanak saudara, juga tak lupa tetanggaku bahwa seorang Isna akan memiliki adik yang sudah sangat lama dinanti. Telah berlalu satu bulan hari-hariku diiringi dengan harap akan datangnya calon adikku itu. Ibu serta ayahku pun tak lupa untuk menyumbangkan rasa bahagia ini dengan mulai mempersiapkan segala kebutuhan datangnya buah hati mereka yang baru. Namun, Tuhan berkehendak lain.Ternyata rasa bahagia ini hadir hanya sementara. Suatu sore yang melelahkan ketika baru saja aku pulang dari rutinitas sekolah menengah pertamaku, ibuku tertidur sangat lemas di kasur. Aku tak mengerti mengapa, beliau meringkih lesu. Kudekati dan kudengar sebuah kalimat pilu terucap darinya, beliau berkata “neng, maafin mamah yaaa…?” Aku tak tahu harus membalas dengan berkata apa, yang aku tahu ibuku butuh aku untuk tetap menemani di dekatnya. Aku sudah berperasaan bahwa ada yang tidak beres dengan kondisi kehamilan ibuku tapi ketika itu aku tetap optimis dan meyakinkan diri bahwa beliau baik-baik saja. Selang beberapa menit, tak mengerti dikarenakan apa, ibuku merasakan ada sesuatu yang menyentak dalam kandungannya. Beliau memintaku untuk membantunya memapah ke kamar kecil. Sesampainya di kamar kecil ibuku menangis meringkih tak berdaya. Lalu keluar lagi ucapan dari bibir perempuan yang paling kusayangi itu, “neng, maafin mamah yaaa…?”
Isakku tertumpah ketika aku melihat suatu pemandangan yang sungguh menyayat hatiku. Ada beberapa gumpalan berwarna merah yang kulihat di lantai disertai dengan darah yang terus mengalir dari pahanya. Seketika itu aku panik disertai tangis yang terus terisak. Aku segera mencari bantuan, kupanggil beberapa tetangga dekat rumah untuk datang melihat kondisi ibuku kini. Semua panik menjadi-jadi, lalu mereka menelepon rumah sakit untuk meminta bantuan. Digiringnya ibuku untuk masuk ke dalam mobil. Aku tak kuasa melihat pemandangan itu, kutelepon segera ayahku ke kantornya, kuceritakan dengan penuh haru. Segera aku dan beberapa tetanggaku bergegas menuju rumah sakit membawa ibuku yang apabila kau melihat, mungkin akan tersayat hatimu kelu, sebagaimana aku saat itu.
Ibuku dilarikan ke unit gawat darurat, segala pertolongan medis menghampirinya. Aku diam membisu tak kuasa menahan sedih saat itu. Yang bisa kulakukan hanya mencoba tetap optimis bahwa “mamah ga akan kenapa-kenapa, mamah dan adikku akan baik-baik saja”. Ternyata Tuhan sungguh berkehendak lain dengan segala ke-Maha-Tahu-an-Nya, aku kehilangan adikku untuk selamanya. Adik yang sejak lama kunanti kini tak akan kunjung hadir mengisi canda-tawa di rumahku.
Ketika mengunjungi ibuku yang sudah selesai melakukan operasi kiretnya, kucoba tuk menahan tangis yang sudah terbendung penuh di dalam hati. Kucoba hadirkan senyum di hadapan orang tuaku tuk perlihatkan “tak usah khawatirkan aku”. Kugenggam tangan ibuku yang lembut itu, kurasakan sesalnya dalam raut jelas di wajahnya. Kemudian dia kembali berkata, “neng maafin mamah yaaa..? Ga bisa jaga kandungan mamah dengan baik, jadinya kamu ga bisa punya adek, mamah yang salah" . Tangisku tak kuasa tertumpah. Kupeluk erat sosoknya. “Ga apa-apa mah, udah kuasa Allah harus begitu, neng terima, yang penting mamah ga kenapa-kenapa, neng juga salah ga jagain mamah dengan baik, udah ya mah”. Ruangan salah satu kamar di rumah sakit Krakatau Steel itu mengharu-biru. Ada pemandangan yang mungkin kau tak akan kuasa menahan sedihmu.
Harapku dan kedua orangtuaku lenyaplah sudah. Ternyata Tuhan menjawab do’a kami dengan kehendak lain. Mungkin aku memang harus rasakan kasih sayang kedua orang tuaku sendirian. Mungkin akulah yang hanya satu-satunya harus terperhatikan oleh kedua orang tuaku. Apapun itu tetap aku syukuri kehendak-Nya dengan keseluruh tulusku. Tuhan pastilah ingin tunjukkan banyak hal dari kejadian itu. Kini akulah aku, satu-satunya.
Bait Simpulan
Mungkin aku memang tak seberuntung kalian ..
Kalian yang bisa rasakan manisnya rasa bergurau dengan saudara di rumah ..
Mungkin aku tak seberuntung kalian ..
Yang walaupun kadang ada amarah terasa dengan adik atau kakak ..
Tapi setidaknya itulah warna yang mengisi kekosongan di rumah ..
Dan kusadari ..
Kalian pun juga tak seberuntung diriku ..
Aku yang miliki semua kasih sayang orang tuaku ..
Aku yang rasakan sepenuhnya dekap hangat orang tuaku ..
Aku satu-satunya yang mampu alihkan perhatian mereka ..
Tak ada yang lain yang perlu mengganggu kehangatan kami ..
Aku tak bisa rasakan jadi seberuntung kalian ..
Kalian pun tak bisa rasakan jadi seberuntung diriku ..
Sungguh ..
Adil bukan?
Itulah kuasaNYA ..
Karunia dari Sang Maha Adil ..
Allahku .. juga Allahmu ..
Allah kita .. :')

