Wednesday, December 6, 2017

Tantangan Pengasuhan Sepanjang Masa

✨Tantangan Pengasuhan Sepanjang Masa

.
Oleh: Isnawati Eka Lestari
.

Tahukah bu?
Di zaman manapun sebetulnya ada tantangan pengasuhan yang sama.
Walau banyak yang berkata pengasuhan zaman ini lebih banyak tantangan, ya dunia hiburannya, belum lagi tingginya kriminalitas, atau mungkin masalah pemerintahnya.
Padahal di balik itu semua, ada tantangan yang sejak dulu dan sampai kapanpun akan hadir mengintai, yaitu: "diri sendiri".

Anak-anak kita pertama kali berhadapan dengan diri kita, orang tuanya.
Tak perlu jauh berpikir bagaimana lingkungan bermain atau sekolahnya nanti apakah akan mendukung perkembangannya jadi semakin baik.
Pertama kali, lihat lah ke dalam diri, kita lah yang pertama kali akan berinteraksi dengan mereka.

...

Sadarkah bu?
Bisa jadi pengelolaan emosi kita lah yang membuat anak juga kurang bisa mengontrol emosi dirinya saat dewasa kelak.
Ingatkah bu?
Sudah berapa banyak bentakan atau kemarahan yang terlepas di depan anak sendiri, lalu seringnya saat mereka tertidur, kita menyesal ingin menarik semua amarah tadi.
Cukupkah bu?
Bila anak kita diasuh oleh diri kita yang sering kalah dengan rasa malas, mengizinkan hal-hal yang kita paham teorinya tidak boleh, tapi kita tak kuasa berjuang menghadapi rasa malas itu.

Aahh bu.. Rasanya sebelum ada istilah anak durhaka, lebih dulu seharusnya kita mengevaluasi diri apakah jangan-jangan kita lah yang mendurhakai anak-anak kita?

Belum lagi sebagian dari kita ada yang pernah mengalami trauma pengasuhan.
Yang menyadari cara mengasuh orang tua kita dulu itu banyak keliru, lalu kita berniat tak akan melakukannya.
Nyatanya sering dari kita yang justru meng-copy paste apa yang pernah kita alami saat diasuh dulu yang akhirnya akan me-mata rantai-kan kembali siklus pengasuhan itu.

Maka benar bila ada beberapa pakar yang berkata trauma pengasuhan masa lalu harus segera diselesaikan, tuntas secepat mungkin, sebelum semuanya terlambat, sebelum hanya penyesalan mendalam yang akan kita rasa.

Mari bu.. Kita banyak berbenah, kita kelola lagi diri kita sendiri, kita sama-sama berjuang memberikan diri kita "versi terbaik" di hadapan anak-anak.
Bila butuh bantuan, cari lah bu, ceritakan, tuntaskan, mintalah yang lebih ahli menyembuhkan berbagai trauma atau segala emosi negatif yang masih dirasa.
Agar kelak, hanya diri kita versi terbaik lah yang akan anak-anak sambut.
Agar nanti, segala pembelajaran dan ilmu pengasuhan akan bisa dengan mudah kita aplikasikan tanpa harus terhalang emosi dan rasa malas yang sering menghambat terlaksananya semua itu.
Agar di masa depan, kita akan saksikan anak kita tumbuh dengan penuh kebaikan, penuh kasih sayang, dan tercukupi segala kebutuhannya serta haknya dengan sebaik-baiknya.
Dari tangan kita, dari hasil didikan kita, dari seluruh penjiwaan kita sebagai seorang ibu, sang pembangun peradaban.

-end-

Note:
Tulisan ini saya buat sebagai pengingat saya pribadi, betapa saya sadar, saya berperan sebagai pendidik utama yang akan menentukan sebagus apa perkembangan anak-anak kelak.
Dan tentu saya juga ingin para ibu lainnya sama-sama segera berjuang memperbaiki diri sendiri agar kita bangun generasi yang lebih unggul, dunia+akhirat 🙂

Friday, August 25, 2017

Ketidaksiapan Kami

Sebelumnya saya mem-posting family project terbaru kami yaitu mengajarkan Ihsan toilet training.
Kemarin sudah dicoba dan saya angkat tangan, saya sadar persiapannya belum matang.
,,
Sebetulnya saat kami mengadakan family forum dadakan untuk melakukan toilet training ini karena kebetulan popok Ihsan sudah habis dan suami saya mengatakan, "yauda ga usah pakai popok aja" dan dia bersedia membantu membersihkan hajat Ihsan nanti.
Disitu walau saya sadar ini serba dadakan, tidak ada salahnya untuk dicoba.
,,
Setelah bangun pagi, Ihsan saya sounding, " Ihsan, hari ini pipis sama eeknya di kamar mandi yaa kalau bunda sama ayah, popoknya coba dilepas ya".
Saat mandi pagi, Ihsan sempat pipis dan saya katakan, "nah, itu namanya pipis yaa, piii-pis, jadi kalau pipis di kamar mandi kaya gini yaa".
Lalu setelah mandi tidak saya pakaikan popok dan Ihsan bertahan tidak pipis sekitar 1 jam lebih.
Saya beberapa kali mengajaknya namun dia bergeming.
,,
Nah, yang seru, saat saya dan Ihsan ke indomaret, disitu dia pipis di depan kulkas tempat susu :D
Jujur saya kaget tapi mencoba tenang di depan Ihsan.
Untungnya karyawan indomaret menerima dan memaklumi, serta mau mengepel bekas pipisnya.
Di indomaret saya berinisiatif membeli popok untuk  berjaga-jaga.
,,
Pulangnya, walau sudah ada popok baru, saya coba lagi Ihsan tidak pakai.
Setelah makan siang, saya melihat tanda Ihsan akan BAB.
Lalu segera saya ajak dia ke toilet.
Ihsan sebetulnya senang dan mengerti saat dia didudukkan di WC.
Namun, sudah sekitar 10 menitan, BAB tidak keluar dan Ihsan menunjukkan ingin turun.
,,
Yang seru adalah, saat saya tinggalkan sholat zuhur, lalu mengecek Ihsan, disitulah ternyata dia sudah mojok BAB di celana :D
Saya tertawa dan segera angkat Ihsan untuk dibersihkan.
,,
Setelah saya mandikan, Ihsan sempat tidak saya pakaikan popok lagi tapi saya sedang bimbang apakah memakaikannya lagi atau melanjutkannya.
Pada akhirnya saya pakaikan Ihsan popok lagi dan seketika itu saya lega luar biasa :D
,,
Pertimbangan saya untuk menyudahi toilet training ini adalah memang persiapan yang belum matang, diantaranya:
1. Belum ada sounding intens
2. Belum menyiapkan perlengkapan seperti training pants, potty, perlak, dll
3. Saya sedang terkena flu, kondisi saya tidak fit, saya khawatir semakin tumbang.
4. Sejak awal kami memang merencanakan Ihsan toilet training setelah terapi speech delay-nya selesai atau minimal setelah Ihsan sudah bisa berkata "pipis" dan "eek" dengan lancar.
,,
Maka beberapa pertimbangan tadi menghentikan project toilet training ini ^^
,,
Selanjutnya kami akan lebih fokus pada terapi speech delay dan perkembangan bicara Ihsan.
Itu dulu yang ingin dikejar.
Semoga Ihsan bisa terus berkembang kemampuan bicara maupun kemampuan lainnya :)
.
.
#Day10
#Level3
#MyFamilyMyTeam
#KuliahBunsayIIP

Thursday, August 24, 2017

Toilet Training Project

Malam ini saya dan suami mengadakan family forum dadakan.
Ada beberapa pertimbangan kami yang insyaa Allah menjadikan besok sebagai hari pertama Ihsan toilet training.
Bismillah...

Gugup pasti ada, seperti saat Ihsan disapih 2 bulan lalu.
Tapi dengan menerapkan beberapa tips saat menyapih lalu dan tips ibu-ibu lain yang sudah berpengalaman, Bismillah akan dicoba.

Untuk project terapi speech delay Ihsan tetap akan dilanjutkan.
Terapi dan konsultasi perkembangan Ihsan dengan psikolog anak masih berlanjut sekitar 6 bulan dengan evaluasi per-enam minggu.

Tugasnya saya akan mendampingi, mengajarkan, memberi sounding pada Ihsan, dan tentu menyiapkan ilmu serta tentunya do'a :)
Untuk membersihkan hajat Ihsan yang kemungkinan akan berceceran, ayah bersedia menerima tugas ini.
ART kami juga nanti akan saya komunikasikan agar bila saat jam kerjanya juga turut membantu.

Bismillah...
Mudahkan yaa Allah...
Mampukan kami mengerjakan tugas kami diatas dengan kelapangan dan sikap lemah lembut kami pada Ihsan.
Karena sungguh dia akan belajar kembali mengenai keterbatasan dan bagaimana menahan hajat agar dilakukan di tempat yang tepat.
Jadikan agar proyek keluarga kami ini berjalan lancar, cepat, dan dipenuhi rasa pengertian satu sama lain.
Aamiin...
.
.
.
#Day9
#Level3
#MyFamilyMyTeam
#KuliahBunsayIIP

Saturday, July 22, 2017

Keseruan Melatih Anak Makan Sendiri

Alhamdulillah sudah masuk hari ke-10 dari #tantangan10hari #level2 yang diberikan kelas Bunda Sayang Ibu Profesional.

Saya sangat menikmati proses melatih Ihsan makan sendiri dan semoga dia pun menikmatinya karena memang tiap makan sendiri, Ihsan lebih happy dan lahap, Alhamdulillah :)

Hari ke-10 ini saya ingin membuat resume dari apa yang sudah terpraktekkan 9 hari ke belakang.
Oya bila ingin melihat praktek atau dokumentasi latihan kemandirian makan Ihsan, bisa mampir ke IG saya @isnawati_tari 😊

Yang saya simpulkan adalah bahwa makan harus jadi aktivitas menyenangkan untuk anak usia dini karena mereka masuk di tahap eksplorasi yang sedang banyak mencari tahu banyak hal.
Lambat laun setelah anak paham bahwa ternyata makan itu untuk pemberi tenaga, pembawa nutrisi, atau penghilang lapar, mereka insyaa Allah bisa semakin sadar diri dengan aktivitas ini.

Overall Ihsan bisa makan sendiri walau tetap di-mix dengan saya suapi.
Jadi bila menu dan situasinya sesuai, saya menawari Ihsan makan sendiri.
Sebaliknya ada saat dimana suapan sendok/tangan saya harus menyelesaikan aktivitas ini agar tetap tercukupi asupan nutrisinya.

Idealnya pasti kita mau semuanya terpraktekkan sesuai teori dan harapan, tapi sebagai ibu, tetap "waras" itu lebih penting ^^

Berpikir idealis itu perlu tapi pikiran yang tenang jauh dari stress itu lebih penting ☺

#day10
#level2
#tantangan10hari
#bundasayangIIP
#melatihkemandirian

Friday, June 16, 2017

Membiasakan Berkomunikasi Produktif

Alhamdulillah sudah di hari terakhir masa "tantangan10hari" untuk menerapkan ilmu komunikasi produktif.

Di laporan terakhir kali ini saya akan membuat semacam resume keseluruhan praktek yang telah saya lakukan.

Kalau yang dari saya simpulkan, kaidah-kaidah yang diberikan untuk diterapkan sebetulnya harus di-mix&match, misalnya kaidah clear & clarify juga harus memperhatikan kaidah choose the right time. Tapi dengan praktek bertahap yang dianjurkan, kita jadi bisa menguasai tiap kaidah satu-persatu hingga bisa menerapkan keseluruhannya.

Dengan menerapkan komunikasi produktif ini, saya sangat merasakan bahwa pesan yang disampaikan bisa dengan mudah tersalurkan dan waktu serta tenaga yang dibutuhkan untuk menyampaikannya jadi sangat efisien. Saya pun merasa lebih tenang dan damai dengan praktek komunikasi produktif ini dan lawan bicara saya pun jadi sangat mudah diajak berkoordinasi, Alhamdulillah :)

Tentunya saya harus terus belajar, praktek, evaluasi, belajar, praktek, evaluasi, begituuu terus agar ilmu ini benar-benar bisa melekat di tiap saya ingin menyampaikan pesan pada orang lain terutama pasangan dan anak.

Alhamdulillah bisa meneruskan "studi" menjadi Ibu Profesional di tahap Bunda Sayang, dari sejak Matrikulasi, ilmunya memang sangat bermanfaat dan tiap tugas yang diberikan jadi memacu diri untuk langsung mempraktekkannya :)

#day10
#level1
#tantangan10hari
#komunikasi produktif
#kelasiipbundasayang

Thursday, June 15, 2017

Games Komunikasi Produktif Day 9

- Objek: Anak (1tahun 10bulan)

- Kaidah: Mengganti perintah dengan pilihan

- Moment: Saat anak malas/mogok makan

- Praktek & Hasil: Kaidah ini sebetulnya sudah beberapa kali saya terapkan sebelum mendapat teori komunikasi produktif. Saat pagi dan sore, saya menyuapi ihsan sambil mengajaknya bermain diluar rumah, ketika dia menolak disuapi, saya berikan pilihan, "ihsan kalau masih mau main makan ya, kalau ga mau makan, kita masuk rumah aja". Diberitahu begitu ihsan bisa langsung menurut disuapi daripada saya perintahkan meminta dia membuka mulut. Atau beberapa kali sebelum kami keluar rumah, saya sudah berikan pilihan, "ihsan mau main diluar kan? Sambil makan yaa, kalau ga mau makan berarti kita di rumah saja". Dengan kaidah intonasi suara ramah, cara ini jadi sangat efektif diterapkan, Alhamdulillah :)

#day9
#level1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kelasiipbundasayang

Wednesday, June 14, 2017

Games Komunikasi Produktif Day 8

- Objek: Anak (1tahun 10bulan)

- Kaidah: Melanjutkan penerapan seperti di day 7

- Moment: Saat ihsan berusaha menutup pintu mushola sendiri dan saat dia sedang bermain puzzle

- Praktek & Hasil: Saat menutup pintu mushola, ihsan kesulitan, saya semangati terus dan dia mau terus mencoba sendiri walau pada akhirnya saya yang tutupkan karena memang secara tenaga dia belum bisa. Saat bermain puzzle ihsan juga serius mencoba mencocokkan rangkaian puzzle yang dia mainkan sambil saya semangati, "ayo ihsan bisa, sedikit lagi, coba dibalik puzzlenya, pasti bisa" :)

#day7
#level1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kelasiipbundasayang

Tuesday, June 13, 2017

Games Komunikasi Produktif Day 7

- Objek: Anak (1tahun 10bulan)

- Kaidah: Setelah Alhamdulillah berhasil mempraktekkan 2 kaidah sebelumnya, kini saya menambah 1 kaidah lagi yaitu mengganti tidak bisa jadi BISA

- Moment: Saat anak memakai sendal dan turun dari sepedanya sendiri

- Praktek: Ihsan biasanya kalau sedang kesulitan memakai/melepas sesuatu sendiri akan merengek minta dibantu. Saya kadang langsung bantu, tapi dengan menerapkan komunikasi produktif, saya menyemangati saja mengatakan, "ihsan bisa kok pakai sendiri, ayo dicoba lagi, pasti bisa", sambil benada ramah.

- Hasil: Alhamdulillah ihsan sambil saya semangati terus mencoba lagi dan akhirnya dia berhasil memakai sendal dan turun dari sepedanya sendiri, seterusnya pun sekarang tanpa disemangati dia bisa melakukannya sendiri, Alhamdulillah :)

#day7
#level1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kelasiipbundasayang

Sunday, June 11, 2017

Games Komunikasi Produktif Day 6

- Objek: Anak (1 tahun 10 bulan)

- Kaidah: Mengatakan apa yang kita mau dan meneruskan menerapkan kaidah intonasi suara ramah

- Moment: Mengondisikan anak saat ikut acara bukber Shafa Community dari berangkat saat zuhur sampai pulang selepas maghrib

- Praktek & Hasil: Alhamdulillah lagi-lagi efek komunikasi produktif ini sangat terasa. Ihsan jadi mudah diajak kondusif saat acara berlangsung maupun saat di perjalanan, walau namanya anak kecil inginnya kesana kemari mengeksplor banyak hal tapi bila diberi tahu dengan nada ramah, Ihsan cepat menurut, Alhamdulillah :)

*Note:
Sebetulnya ini praktek waktu hari Minggu tanggal 11 Juni 2017, tapi karena habis pulang bukber ternyata saya lupa menulis laporan, jadi saya setor di hari berikutnya (Senin).

#day6
#level1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kelasiipbundasayang

Saturday, June 10, 2017

Games Komunikasi Produktif Day 5

Bismillah...

Laporan kali ini saya buat tidak memakai narasi lagi. Agar efisien, saya akan buat perpoin :)

- Objek: Pasangan

- Moment: Saat memberitahu pasangan ada yang (menurut saya) salah dengan tata cara salah satu rukun ibadah

- Kaidah: Menentukan waktu yang tepat saat berbicara

- Praktek: Menunggu suami sudah selesai makan, sudah dalam posisi santai, lalu berbicara dengan menggabung kaidah clear & clarify yang sudah dipraktekkan sebelumnya

- Hasil: Suami menerima "kritikan" saya walau di awal juga sempat mengklarifikasi, tapi kemudian saya ajak diskusi lagi tata cara yang benar

#level1
#day5
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kelasiipbundasayang

Friday, June 9, 2017

Fokus Mengatakan Apa yang Kita Mau

Melanjutkan kembali games seru dari Kelas Bunda Sayang, hari ini saya menambah poin kaidah komunikasi produktif pada anak yaitu mengatakan bukan yang kita mau tapi mengatakan apa yang kita mau.

Kaidah sebelumnya tetap saya pakai dan Alhamdulillah saya sudah merasakan efeknya dan Insyaa Allah bisa terus menerapkannya, maka saya menambah 1 lagi fokus kaidah komunikasi produktif lainnya.

Tadi pagi ketika saya sedang memotong apel untuk ihsan, dia mengambil pisau yang sedang saya gunakan. Ibu mana yang tidak khawatir melihat anaknya memegang benda berbahaya. Tapi, saya coba tetap tenang, saya amati dia sebetulnya hanya ingin mencoba meniru saya memotong apel. Lalu, perlahan saya katakan dengan mencoba intonasi seramah mungkin: "ihsan, bunda mau ihsan kembalikan pisaunya ya". Awalnya dia tidak mau, saya coba terus sampai akhirnya perhatiannya harus saya alihkan.

Berlanjut seharian ini saya coba terus berfokus melarang dengan kalimat apa yang mau kita inginkan pada anak. Alhamdulillah terbilang berhasil dengan tentunya tetap menjaga intonasi suara ramah seperti kaidah sebelumnya :)

#level1
#day4
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Thursday, June 8, 2017

Memahami Cara Bekerja Otak Anak

Alhamdulillah memasuki Day 3 dari Games Level 1 kelas bunda sayang kali ini benar-benar membuat saya sebagai Ibu bisa merasakan efek positif dari materi yang telah diberikan :)

Hari ini komunikasi produktif saya masih terfokus pada anak dengan menerapkan salah satu kaidah yaitu berusaha mengelola emosi dan menjaga intonasi ramah saat berbicara.

Saya memberi judul "Memahami Cara Bekerja Otak Anak" ini karena sebetulnya teori bagaimana otak anak bekerja itu sudah saya pernah dapatkan. Lalu dengan materi komunikasi produktif dari Kelas Bunda Sayang, saya seperti menemukan "how to" secara teknis pelaksanaannya, Alhamdulillah :)

Menurut beberapa ahli neuro-sience, otak anak itu baru bisa bekerja untuk paham dan taat akan suatu hal apabila kondisi otak anak sedang rileks, misal saat menjelang tidur atau sedang ceria. Tentunya keadaan tersebut bertolak belakang dengan kondisi saat anak dibentak/dimahari dimana saat itu yang bekerja pada otak anak adalah "fungsi alarm". Pada kondisi ini, memang anak bisa patuh secara instan saat dimarahi karena alarm otaknya sedang bekerja akan suatu ancaman, jadi ya karena takut dia mau tidak mau langsung menuruti.

Nah, komunikasi produktif dengan kaidah mengelola emosi dan berintonasi ramah saat berbicara pada anak itu adalah cara agar anak tetap berada pada rentang rileks dan ceria tanpa terancam. Dengan cara ini saat kita memahamkan anak, akan lebih awet tertanamnya, mungkin tidak seinstan saat kita langsung memarahinya, tapi dengan cara ini, anak di kemudian waktu akan ingat.

Yang saya alami seharian ini memang benar adanya. Ihsan saat sedang diberitahu dengan nada ramah dan saya sambil tersenyum atau bercanda, dia malah lebih cepat menurut dibanding sebelumnya saya sentak karena misalnya ada suatu bahaya yang harus saya beritahu.

Efeknya pun untuk saya pribadi, jadi benar-benar lebih damai dan less energy alias jadi sangat santai menghadapi anak, Alhamdulillah :)

#level1
#day3
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Wednesday, June 7, 2017

Membenahi Komunikasi dengan Anak

Hari ini masuk tantangan hari ke-2 "games" dari Kelas Bunda Sayang.

Saya memfokuskan perbaikan komunikasi kepada anak dan Alhamdulillah efeknya wow sekali :)

Kaidah yang saya terapkan hari ini berfokus pada menjaga intonasi suara dengan suara ramah saat berkomunikasi dengan anak.

Seharian ini saya berupaya menjaga emosi saat berbicara pada anak agar tertangkap tenang dan ramah.

Efeknya Masyaa Allah Barakallah, anak saya lebih mudah menurut dan saya pun melalui hari dengan sangat tenang karena sangat minim drama melarang-larang dengan intonasi tinggi atau meminta anak mengerjakan sesuatu dengan nada "gemas" :D

Misalnya saat ihsan ingin main diluar dan karena dia sudah bisa buka pintu sendiri, dia mulai membuka kunci.
Biasanya saya langsung melarang dengan intonasi agak tinggi berhubung pintu rumah kami bertipe hidrolik yang kalau tidak sampai mentok dibuka, bisa berbalik lagi dan menyebabkan orang yang di belakangnya bisa terbentur :(
Tapi tadi pagi, saya segera pegang tangannya lembut agar menghentikan dia membuka kunci, lalu saya sampaikan ihsan mainnya di dalam rumah aja yaa.. Hehehe.. (Sambil saya menyeringai mencoba tersenyum).
Ihsan pun balas menyeringai sedikit tertawa lalu langsung berbalik masuk ke dalam dan dia pun melanjutkan bermain di dalam rumah, Alhamdulillah sangat kondusif sekali :)

#level1
#day2
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Tuesday, June 6, 2017

Tantangan 10 Hari Bunda Sayang Day 1

Alhamdulillah setelah lulus kelas Matrikulasi Ibu Profesional, saya kini melanjutkan "studi" berikutnya yaitu kelas Bunda Sayang :)

Seperti biasa ada tugas yang disebut tantangan atau games di kelas ini dan tugas kali ini bertema Komunikasi Produktif (KP).

Langsung saya cerita tantangan hari pertama ya.

~KP pada Pasangan~

Poin atau kaidah yang saya fokuskan pertama adalah kaidah clear and clarify, kenapa?
Karena saya sadar suami saya dengan sifat alamiah gender kelelakiannya dan juga karena karakternya yang koleris, membawanya pada dunia "intinya apa" :D

Awal menikah, saya ini kalau menyampaikan sesuatu sering pakai basa-basi, maklum yaa namanya wanita yang cenderung senang cerita.. Hehe..

Maka, saya ingin menyesuaikan "gaya" Komunikasi suami saya yang ingin segala sesuatunya jelas dan inti pembicaraannya tersampaikan.

Hari pertama saya awali dengan pembicaraan seputar anak kami yang sudah saya planning ikut konsultasi tumbuh kembang di RS Hermina.

Saya masih ragu dan ingin menanyakan pendapat suami saya, maka saya susun pertanyaan yang jelas dan sambil melihat waktu yang tepat saat menyampaikan.

Alhamdulillah pesannya tersampaikan dan saya mendapat jawaban yang juga jelas dari suami.

Efeknya saya jadi tenang dan pembicaraan pun tidak perlu berbelit-belit, cukup beberapa menit percakapan selesai dengan pesan yang didapat Insyaa Allah dengan baik, Alhamdulillah :)

#level1
#day1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Monday, March 27, 2017

3 Langkah Ini Bisa Dicoba Agar Konsumen Segera "Klik" Membeli Produk Kita

Materi yang saya sharing ini asalnya dari penelitian tugas akhir kuliah yang memang biar sekali dayung 2-3 pulau terlampaui, temanya sengaja masih kisaran bisnis:
"Pengaruh Social Media pada Brand Equity dan Dampaknya terhadap Keputusan Pembelian Konsumen"


Jadi, insyaa Allah materi kali ini layak dicoba karna memang sudah dilakukan penelitian oleh saya pribadi




Yang berhubungan dengan judul materi kali ini saya rangkum jadi beberapa poin/langkah apa yang sebaiknya dilakukan oleh para pemilik brand agar konsumen langsung "klik" membeli, here there are:

1. Membangun Brand Awareness
Kenapa harus duluan?
Karna konsumen saat mencari alternatif berbagai pilihan dalam memilih produk, akan lebih dulu mengevaluasi brand yang memang sudah mereka ingat.
Jadi, penting untuk kita membuat banyak orang SADAR kemudian INGAT dengan brand kita terlebih dulu.
Contoh simpelnya, brand apa yang langsung temen-temen ingat kalau saya sebut pasta gigi dan mie instan? ^^
Caranya dengan sering dan RUTIN melakukan iklan dengan tujuan utama membuat banyak orang KENAL dulu sama brand kita.
Nah, social media bisa banget dijadikan sarana mengenalkan brand.
Misalnya di fanpage, rutin memberi konten/status bermanfaat yang bisa banyak di-sharing (kalau bisa berhubungan dengan produk), syukur-syukur bisa jadi viral, kan nama fanpage-nya nyantol terus tuh di postingan itu

2. Menciptakan Brand Image
Jadi kalau di langkah pertama kita buat banyak orang kenal dan ingat, kalau di langkah kedua ini kita buat konsumen PERCAYA dengan keunggulan yang kita miliki.
Teruslah edukasi konsumen agar keunggulan produk kita MELEKAT di benak mereka.
Kalau para online shop bisa dengan menampilkan testimoni, foto paket terjual, dan lainnya yang intinya membuat konsumen YAKIN.
Untuk yang skala coorporate, perjalanan brand image ini bisa panjang dan lama, contohnya image berkelas kalau kita sebut brand Apple atau Mercedes Benz.

3. Menambah Yakin dengan Perceived Quality
Next step, setelah konsumen percaya dengan image brand kita, selanjutnya membuat mereka bertambah keyakinannya dengan kualitas yang bisa dirasakan (perceived quality).
Nah, di langkah ini faktor produksi sangat berpengaruh, dimana kita harus buat produk yang memang kualitasnya sesuai dengan image yang sudah diciptakan di langkah 2.
Jangan sampai kita buat image produk yang terlihat mewah tapi bahannya kualitas bawah, huhuhu...

Nah itu tadi 3 tahapan yang bisa langsung dipraktekkin supaya saat konsumen lagi butuh beli sesuatu, langsung inget dan "klik"-nya ke produk kita ^^

Segini dulu yah sharing-nya, belum bisa banyak, sambil nyuapin anak di mobil
Semoga bermanfaat
Insyaa Allah dilanjut lagi ^^

Saturday, March 25, 2017

Bisa Lebih Mahal dari Kompetitor tapi Lebih Laris

Bertemu lagi di sharingan ala emak isna ^^
Kali ini saya mau coba kasih tips buat para emak pebisnis yang sering gundah gulana lelah jiwa gara-gara "perang harga" :D

Sebelum panjang lebar, ini ada ilustrasi gambar dari page Marketing Strategy.
Disini udah bisa nangkep gimana cara bikin produk kita lebih mahal dari produk sejenis or kompetitor?

Yap, poinnya adalah soal BRANDING.
Mungkin produk bisa sama, kualitas bisa diadu, rasa beda tipis, atau bahan bakunya eta-eta keneh kalau kata orang Sunda mah :D

Tapi... Yang membedakan adalah NILAI LEBIH yang dirasakan konsumen sehingga mereka mau membayar LEBIH MAHAL.
Inilah efek dari aktivitas mem-branding produk :)

Nilai lebih itu suatu hal istimewa yang bisa konsumen dapatkan diluar produk, bisa pelayanannya lebih memuaskan, bisa kemasannya lebih menarik, atau hal lain yang membedakan produk kita dengan kompetitor.

Kalau sesuai gambar ini, sepertinya yang sering lama-lama ngopi di Starbucks udah paham nilai lebih apa yang mereka rasakan.
Selain kopi yang mereka beli, mereka sebetulnya juga membeli gengsi dan kenyamanan yang ditawarkan oleh brand kopi satu ini.

Nah... Membuat nilai lebih itu memang biasanya perlu proses yang lumayan bikin capek, tapi masih lebih mending capeknya dari ngerasain lelah hati dan tipis profit bahkan sepi pembeli gara-gara perang harga ^^

Buat yang masih mau produknya bisa makin laku padahal harga lebih mahal dari kompetitor, sudahkah melakukan branding untuk produkmu?? :)
.
.
.
*dari status Sharing 10 di FB personal saya: fb.com/isna.Venusocial

Friday, March 24, 2017

Menjadi Ibu Agen Perubahan

Bertemu lagi dengan Nice Homework dari Matrikulasi Ibu Profesional yang semakin membuat saya pribadi Insyaa Allah lebih mantap menentukan arah misi hidup :)
Alhamdulillah kali ini sudah masuk tugas terakhir, dimana setelah NHW 9 ini, para peserta matrikulasi akan diberi label "lolos" oleh tim fasilitator dan melanjutkan program Bunda Sayang.

Materi ke-9 ini seputar bagaimana seorang ibu mampu mengenal passion/minatnya dan mampu mengamati isu sosial yang berada di sekitar, lalu berusaha membuat ide-ide yang bisa dia lakukan untuk menyelesaikan isu sosial tersebut.
Hal tersebut memang sudah lama saya cita-citakan dan memang NHW 9 ini sudah dalam proses saya kerjakan sampai saat ini dan Insyaa Allah akan terus berlanjut :)
Lewat bisnis saya bernama Venusocial, saya memang menjadikan kemampuan yang saya miliki untuk membantu para ibu berbisnis yang semoga cita-cita saya mewujudkan "generasi ibu yang ahli berbisnis dari rumah" bisa terwujud, aamiin...

And here my NHW 9 ^^


Thursday, March 16, 2017

Tips Buat Si Susah Fokus Nentuin Barang Dagangan


Setelah 2 bulan isi blog ini berkutat pada NHW alias tugas dari matrikulasi Ibu Profesional, marilah kita isi kembali blog ini dengan sesuatu lain, hihi :D
Dimana sesuatu ini juga saya tujukan sebagai pengaplikasian dari berbagai NHW yang sudah dikerjakan, anggaplah sebagai bentuk komitmen dan pembaharuan baru dalam diri saya :)
 
Oke, tulisan kali ini sebelumnya sudah di-post pada status update FB personal saya.
Disini tertulis "Sharing 9", jadi memang saya sejak lama merutinkan memberi sharing berupa artikel "lumayan serius" yang lebih banyak isinya seputar tips/ilmu marketing, sesuai keilmuan yang saya kuasai :)
 
Hari ini, dari sharing ke-9 dulu yaa, nanti insyaa Allah saya akan post sharing-sharing sebelumnya di blog ini juga ^^
Cekidot:
 
Sharing 9

>>Tips Buat Si Susah Fokus Nentuin Barang Dagangan<<

Sebelum masuk tipsnya, kita perjelas dulu yaa, si susah fokus nentuin barang dagangan ini yaitu dia, kamu, kita, mereka, yang bawaannya pengen ganti-ganti barang dagangan terus :D
Lagi trend jualin barang A, ikutan.
Masih banyak stock dagangan B, jualin.
Stock B abis, ganti stock C aja soalnya dapet untung lebih banyak.
Eh ada temen lagi produksi barang D, dia daftar jadi resellernya.
Trus mumpung bentar lagi lebaran, dia jualin juga produk E.
:D

Gitu aja terus gonta-ganti dagangan hobinya, hihi...

Di tiap kesempatan training atau sharing session, saya sering nyaranin kalau jalanin bisnis itu mesti FOKUS.

Nah, kalau memang kita tipe yang susah fokus, tips saya:
"cari suatu segmen market tertentu yang kita kenali dunianya"

Maksudnya gimana?

Jadi, sebelum mulai jualan, kita udah lebih dulu nentuin pembeli tipe seperti apa yang kita sasar.
Bisa ibu-ibu, bisa bapak-bapak, bisa kalangan profesional, bisa para hobi masak, bisa hewan lovers, bisa juga remaja abege gahol :D

Kita ambil contoh segmen ibu-ibu, kaum ini kebutuhannya banyak loh, mulai dari urusan dapur sampai urusan anak-anaknya, jadi kita bisa menawarkan berbagai tipe produk.
Trus langkah selanjutnya kalau mau jualan di FB, kita mulai add friend kalangan ibu-ibu, mulai memberi update status yang berisi apa yang mereka suka, misal tips parenting, tips masak, dll.
Dari sini kita MELAYANI kesukaan mereka terlebih dulu, masuki "dunianya", lalu akan tiba saatnya waktu yang pas untuk menawarkan berbagai dagangan ^^

Lebih enak lagi kalau kita punya fanpage/akun social media khusus berisi postingan yang disukai si target market tersebut.
Udah sering liat kan ya fanpage yang awalnya berisi postingan tips/artikel/info bermanfaat lalu pada akhirnya disitu ada barang yang dijual juga ^^
Ini kalau dalam istilah internet marketing, ujung-ujungnya ya ada monetize :)

Gimana?
Ada manfaatnya kah tips agak iseng ini? :D
Mudah-mudahan bisa dimengerti dan dipelajari yaa ^^

Misi Hidup dan Produktivitas

Bismillah...

Kembali lagi mengerjakan Nice Homework dari Matrikulasi Ibu Profesional yang kali ini semakin membuat merenung ^^
Tema kali ini adalah mengenai "Misi Hidup dan Produktivitas", materi yang disuguhkan sangat bermakna dalam dan membuat saya pribadi menjadi lebih terarah dalam menentukan ingin produktif di bidang apa.

Satu aktivitas yang diambil dari NHW 7 sebelumnya pada ranah suka dan bisa yang saya pilih adalah aktivitas menulis.
Saya menyukai aktivitas ini dan dari perjalanan produktivitas yang saya kerjakan mulai dari berorganisasi, berbisnis, memberi training, atau saat "menyicipi" bekerja kantoran, memang sumber kesemua itu pada potensi menulis saya ini, Alhamdulillah :)

BE
Saya menyadari potensi menulis yang saya miliki ini bukan dalam artian menulis novel, karangan, cerpen, atau menuangkan sebuah cerita fiktif. Saya lebih bisa menyampaian suatu pesan dalam sebuah tulisan atau yang sering saya lakukan belakangan ini yaitu aktif memberi training online yang notabene materinya berupa tulisan. Dari hasil temu bakat pada NHW 7 juga memang salah satu bakat saya adalah interpreter dan mediator, hal ini semakin menguatkan penyadaran bahwa memang saya berpotensi menyampaikan suatu pesan/materi dalam rangkaian tulisan. Berdasarkan hal ini, saya merenungkan untuk lebih memfokuskan potensi saya ini menjadi penulis keilmuan, dimana ilmu yang saya pilih tetap mengacu pada NHW sebelumnya yaitu ilmu psikologi marketing. 

DO
Dari hasil penyadaran diatas, saya merumuskan apa yang akan saya lakukan, yaitu untuk lebih sering berbagi tulisan mengenai keilmuan psikologi marketing dan juga melanjutkan aktivitas saya belakangan ini, yaitu menjadi trainer online dalam bidang psikologi marketing.

HAVE
Bila melihat kata produktivitas, kita akan mengacu pada kata karya. Saya ingin aktivitas menulis ini membuat saya terus produktif menghasilkan berbagai karya. Rincian karya yang ingin saya hasilkan yaitu:
- Memiliki karya tulisan online yang bisa dengan mudah dilihat banyak orang, bisa berupa tulisan di social media ataupun blog pribadi.
- Membuat berbagai materi keilmuan psikologi marketing yang bisa diajarkan pada banyak orang lewat training online.
- Dalam jangka panjang saya ingin juga membuat buku-buku yang bisa dijadikan sumber bacaan orang lain dalam bidang psikologi marketing. 

Lifetime Purpose
Menjadi penulis handal yang karyanya bisa banyak dimanfaatkan orang lain untuk kebaikan yang semoga bisa menjadi amal jariyah untuk tabungan akhirat kelak.

 Strategic Plan (5-10 tahun ke depan)
- Memiliki lembaga pelatihan training online berfokus pada bidang psikologi marketing bekerja sama dengan ibu produktif lainnya.
- Membuat karya tulisan yang dibukukan

New Year Resolution
- Belajar mendalami keilmuan psikologi marketing yang desain pembelajarannya sudah saya buat pada NHW sebelumnya.
- Rutin mengadakan training online yang memang sudah saya tuliskan pada indikator keberhasilan di NHW2.
- Lebih sering berbagi ilmu atau pesan kebaikan minimal lewat media sosial.

~end~

NB:
Hasil pengerjaan ini berdasarkan NHW 8 berikut:

Nice HomeWork #8
MISI HIDUP DAN PRODUKTIVITAS
Bunda, setelah di materi sesi #8 kita belajar tentang bagaimana pentingnya menemukan misi hidup untuk menunjang produktivitas keluarga. Maka saat ini kita akan lebih menggali bagaimana menerapkannya secara teknis sbb :
a. Ambil salah satu dari ranah aktivitas yang sudah teman-teman tulis di kuadran SUKA dan BISA (lihat NHW#7)
b. Setelah ketemu satu hal, jawablah pertanyaan “BE  DO HAVE” di bawah ini :
1. Kita ingin menjadi apa ? (BE)
2. Kita ingin melakukan apa ? (DO)
3. Kita ingin memiliki apa? (HAVE)
c. Perhatikan 3 aspek dimensi waktu di bawah ini dan isilah:
1. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu kehidupan kita (lifetime purpose)
2.Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu 5-10 tahun ke depan ( strategic plan)
3. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu satu tahun ( new year resolution)
Mulailah dengan PERUBAHAN, karena pilihannya hanya satu BERUBAH atau KALAH
Salam Ibu Profesional,
/Tim Matrikulsi IIP/

Thursday, March 9, 2017

NHW7 Tema Bunda Produktif

Hasil dari temubakat.com ada pada link:
http://temubakat.com/id/index.php/main/result?p=8f5b885e22cdea5a5a95f341484e073a&y=1990&m=07&d=21

Quadran aktivitas

1. Disukai dan bisa
- Menulis
- Mentraining orang
- Memasak
- Olahraga outdoor

2. Disukai tapi tidak bisa
- Membuat kerajinan tangan

3. Bisa tapi tidak disukai
- Menyetrika

4. Tidak bisa dan tidak disukai
- Bermain alat musik

Saturday, March 4, 2017

NHW 6 Belajar Jadi Manager Keluarga Handal

Aktivitas paling penting:
1. Ibadah yaumiyah terutama ibadah wajib
2. Menjalankan tanggung jawab sebagai istri & ibu (melayani kebutuhan suami serta mengasuh & mendidik anak)
3. Menjalankan aktivitas bisnis

Aktivitas tidak penting:
1. Stalking socmed
2. Menonton film/video terlalu lama
3. Cuci mata di marketplace online

Aktivitas dinamis:
1. Mengasuh & bermain bersama anak
2. Belajar materi agama, keilmuan, parenting, dan rumah tangga.
3. Mengisi training

Aktivitas harian:
04:20 - 05:00 = bangun, sholat, tilawah/dzikir
05:00 - 06:00 = menjalankan bisnis/belajar diselingi menyusui anak
06:00 - 08:00 = memasak/menyiapkan kebutuhan suami, sarapan bersama, menemani anak bermain/jalan-jalan sambil mengantar suami kerja
08:00 - 10:30 = memandikan anak, memasak serta menyuapi, membersamai main/stimulasi, sholat dhuha, diselingi menjalankan bisnis/belajar
10:30 - 12:00 = menyusui anak tidur siang, belajar materi keilmuan, power nap
12:00 - 12:30 = sholat dzuhur + dzikir/tilawah
12:30 - 15:20 = makan siang, menyuapi anak, menemani bermain, diselingi menjalankan bisnis/belajar
15:20 - 15:40 = sholat ashar + dzikir/tilawah
15:40 - 18:00 = memasak, memandikan anak, menyuapi anak + ajak jalan-jalan/bermain dengan tetangga
18:00 - 18:30 = sholat magrib + tilawah/dzikir
18:30 - 20:00 = bersih-bersih anak sebelum tidur, menyusui sambil stimulasi jelang anak tidur, sholat isya + tilawah/dzikir
20:00 - 20:30 = dinner dengan suami
20:00 - 22:30 = menjalankan aktivitas bisnis atau mengisi training online, quality time dengan suami
22:30 - 04:20 = tidur diselingi menyusui anak

Saturday, February 25, 2017

Design Pembelajaran

Seperti biasa kembali mengerjakan salah satu tugas Matrikulasi Ibu Profesional ^^
Kali ini masuk NHW ke-5.

Design pembelajaran dibuat berdasarkan tugas-tugas NHW sebelumnya untuk mengarah ke tujuan utama.

Bismillah...

1. Tujuan Pembelajaran
Menjadi istri dan ibu sholehah yang juga produktif menebarkan manfaat sesuai kompetensi/bakat.
Pada NHW 4 saya memilih kompetensi yang akan saya perdalam adalah ilmu psikologi khusus pada psikologi marketing.

2. Metode Belajar
Karena saya tipe visual dan kinestetik maka saya lebih suka belajar yang langsung melihat dan mempraktekkan, maka saya lebih memilih menonton/menyimak langsung serta membaca lalu segera mempraktekkannya.

3. Media Belajar
Kajian/seminar langsung, video, diskusi dengan orang yang sudah ahli di bidangnya, buku-buku terkait, artikel internet yang jelas sumbernya, forum diskusi.

4. Materi yang Dipelajari
- Ilmu agama (tauhid, fiqih, terjemah Qur'an, dll)
- Ilmu parenting (sesuai materi Ibu Profesional yaitu 4 pilar menjadi ibu profesional)
- Ilmu psikologi marketing (psikologi karakter, perilaku pelanggan, marketing, internet marketing, dll)

5. Strategi Pembelajaran
Sesuai dengan porsi waktu pada indikator keberhasilan di NHW 2:
http://istriproduktif.blogspot.co.id/2017/02/nhw-2-matrikulasi-ibu-profesional.html

6. Penilaian/evaluasi
Ada evaluasi harian, mingguan, bulanan yang tetap mengacu pada ceklis indikator keberhasilan agar keseluruhan NHW ini terlaksana secara terarah.

Bismillah semoga bisa terlaksana dengan baik dan mendapat ridhoNya :)

Saturday, February 18, 2017

NHW4 Matrikulasi Ibu Profesional

📚NICE HOME WORK #4

🍀MENDIDIK DENGAN KEKUATAN FIITRAH 🍀

Tanya:
a. Mari kita lihat kembali Nice Homework #1 , apakah sampai hari ini anda tetap memilih jurusan ilmu tersebut di Universitas Kehidupan ini? Atau setelah merenung beberapa minggu ini, anda ingin mengubah jurusan ilmu yang akan dikuasai?
Jawab:
Ya, saya masih tetap memilih ilmu psikologi untuk dikuasai

Tanya:
b.  Mari kita lihat Nice Homework #2,  sudahkah kita belajar konsisten untuk mengisi checklist harian kita? Checklist ini sebagai sarana kita untuk senantiasa terpicu “memantaskan diri” setiap saat. Latih dengan keras diri anda, agar lingkungan sekitar menjadi lunak terhadap diri kita.
Jawab:
Kalau konsisten diberikan ceklis tertulis belum, tapi sudah mulai senantiasa berusaha memantaskan diri setiap saat dengan melatih sebisa mungkin agar sesuai checklist yang sudah dibuat.

Tanya:
b.Baca dan renungkan kembali  Nice Homework #3, apakah sudah terbayang apa kira-kira maksud Allah menciptakan kita di muka bumi ini? Kalau sudah, maka tetapkan bidang yang  akan kita kuasai, sehingga peran hidup anda akan makin terlihat.
Misi Hidup: memahami karakter orang lain untuk berbagai kebutuhan terutama pemasaran bisnis
Bidang : psikologi marketing
Peran : trainer

Tanya:
c. Setelah menemukan 3 hal tersebut,  susunlah ilmu-ilmu apa saja yang diperlukan untuk menjalankan misi hidup tersebut.
Jawab:
- Psikologi dasar
- Psikologi karakter
- Marketing
- Komunikasi
- Psikologi marketing
- Public communication
- Perilaku pelanggan
- Internet marketing

Tanya:
d. Tetapkan Milestone untuk memandu setiap perjalanan anda menjalankan Misi Hidup
Jawab:
Milestone  yang ditetapkan oleh saya adalah sbb:
KM 0 – KM 1 ( tahun 1 ) : Menguasai Ilmu Komunikasi
KM 1 – KM 2 (tahun 2 ) : Menguasai Ilmu Marketing
KM 2 – KM 3 (tahun 3 ) : Menguasai Ilmu Psikologi
KM 3 – KM 4 ( tahun 4) : Menguasai Ilmu Internet Marketing

Tanya:
e. Koreksi kembali checklist anda di NHW#2, apakah sudah anda masukkan waktu-waktu untuk mempelajari ilmu-ilmu tersebut di atas. Kalau belum segera ubah dan cantumkan.
Jawab:
Sudah dimasukkan

Tanya:
f. Lakukan, lakukan, lakukan, lakukan
Jawab:
Siap :)

Friday, February 10, 2017

Our Complementary Family

Kembali berkutat dengan Nice Homework dari Matrikulasi Ibu Profesional yang kali ini tugasnya membuat "wooww" dan respon aduhai dari para ibu-ibu :D

Intinya tugas kali ini menemukan potensi dan peran masing-masing anggota keluarga dan apa peran keluarga kita untuk lingkungan.
Nah, yang membuat aduhai itu saat kita menemukan potensi ayah alias suami, kita harus buat dalam bentuk surat cinta, uhh lalaaaa...

Nah, saya akan membahas potensi dan peran ini dalam konsep psikologi karakter yang sudah sangat lama saya pahami + praktekkan yaitu teori 4 tipe karakter koleris-plegmatis-sanguin-melankolis.
Walau masih banyak teori karakter lainnya, tapi yang ini yang menurut saya it suit me well.

Bermulai dari potensi suami saya si koleris yang memang sudah lahiriah berbakat jadi pemimpin.
Eitss.. Bahasan suaminya udah saya buat ke dalam surat cinta yang lebih baik tidak saya post disini, malu buk ibuk hihiii...

Lanjut ke anggota keluarga berikutnya yaitu saya sendiri, si plegmatis yang menyukai kedamaian ^^

Sepertinya memang karena jiwa damai yang sudah terinstal di diri saya yang membuat saya bisa mengontrol emosi, baik itu amarah atau rasa senang agar tidak terekspos berlebihan.
Jadinya ya bawaan saya cenderung tenang/kalem.
Sifat damai ini juga banyak bermanfaat dalam rumah tangga, dimana ketika bersitegang dengan suami, saya bisa membuang gengsi untuk minta maaf terlebih dulu.
Saat menghadapi anak juga saya cenderung bisa tenang saat anak sakit atau saat dia bertingkah "seru" yang kebanyakan ibu biasanya jadi panik, tau kan yaa buk ibuk tingkah anak batita :D
Kedamaian itu juga sangat terasa agar saya bisa sering bersyukur, bisa menerima apa adanya, melihat kelebihan dibalik kejadian buruk, Alhamdulillah...

Dan yang paling terasa karena dengan kelebihan karakter plegmatis ini jadi bisa melengkapi kekurangan suami dengan karakter "cepat panas" kolerisnya ^^
Sangat bersyukur kami bisa jadi pasangan yang memang alamiahnya menutup kekurangan masing-masing dengan kelebihan karakter kami, tabarakallah..

Lanjut ke potensi anak.

Berhubung anak saya, Ihsan Azfar Hudzaifa baru berumur 18 bulan saat tulisan ini dibuat tentunya saya belum bisa melihat jelas apa potensi dan bakatnya.
Tapi secara karakter saya sudah menduga dari sikap-sikapnya selama ini kalau dia itu berkarakter melankolis.
Pernah dengar ungkapan kalau anak batita itu hobi ngacak rumah?
Nah anak saya ini kebalikannya, dia sangat hobi berbenah dan mengembalikan sesuatu pada tempatnya, mengurangi kerempongan ibunya Alhamdulillah ^^

Pernah waktu dia nangis sedang kesal, sudah meraung-raung, tapi tetap menaruh barang ke tempat semula atau lagi nangis begitu masih ingat pintu kamar mandi harus ditutup rapat atau botol minum jatuh dia berdirikan lagi dan berbagai bibit "perfeksionis" lain yang dia lakukan, cekikikan saya lihatnya :D

Kalau memang Ihsan benar berkarakter melankolis seperti yang saya prediksikan maka Alhamdulillah sesuatu sekali berarti keluarga kami benar-benar will be complementary each other.
Kenapa saya bilang begitu?
Karena side character saya dan suami itu sama-sama sanguin, jadi bila Ihsan benar melankolis, wah Tabarakallah, semua karakter ada dalam 1 keluarga :)

Hal ini yang membuat saya harus optimis dan berusaha menjadikan keluarga kami bisa bekerjasama melakukan berbagai project kebaikan untuk ummat.
Saya dan suami sama-sama bervisi untuk memaksimalkan potensi kami agar bisa berkontribusi bagi kebaikan sesama dan Insyaa Allah akan kami mulai dari dalam keluarga menebar manfaat ke lingkungan, Bismillah...

Friday, February 3, 2017

NHW 2 Matrikulasi Ibu Profesional

Nice homework kali ini adalah membuat indikator keberhasilan yang terukur untuk 3 kriteria:
- sebagai individual
- sebagai istri
- sebagai Ibu

And here's mine.. Bismillah..

INDIVIDU

- ibadah:
1. Menjaga sholat wajib tepat waktu
2. Menyempatkan sholat dhuha setiap hari
3. Tilawah/mendengar murotal minimal setengah juz per hari
4. Membaca/menonton kajian tafsir Qur'an atau ilmu agama lainnya 30 menit perhari
5. Sholat sunnah rawatib minimal 2 waktu perhari
6. Al-ma'tsurat tiap hari

- pemberdayaan diri
1. Membaca buku/artikel keilmuan 20menit/hari
2. Menjalankan aktivitas bisnis 3 jam/hari
3. Meluangkan waktu sharing ilmu lewat tulisan (artikel/update status sosmed) 2 hari sekali
4. Aktif mengikuti pendidikan online (seperti Rumah Main Anak & Matrikulasi Ibu Profesional)
5. Mengadakan/mengisi training online 2 kali perbulan

- kesehatan:
1. Olahraga ringan 10 menit/hari
2. Menjaga asupan nutrisi terutama buah&sayur
3. Renang 2 minggu sekali

ISTRI
- biologis:
1. Peka terhadap kebutuhan biologis suami & bersegera memenuhi saat diinginkan
2. Menyiapkan makanan suami setiap hari
3. Memperhatikan & menyiapkan penampilan suami agar rapi & bersih

- psikologis:
1. Memeluk 1 menit perhari
2. Makan dan menonton tontonan berkualitas bersama saat jam makan malam
3. Mengobrol/berdiskusi 1 jam perhari
4. Membaca buku/artikel mengenai psikologi suami-istri 10 menit perhari

- komunikasi:
1. Berusaha selalu menjaga tutur kata dan lembut saat bicara
2. Memperhatikan mood suami bila ada obrolan dengan topik serius
3. Selalu memberi kabar bila sedang tidak bersama
4. Selalu meminta izin bila ingin pergi keluar atau ada tamu
5. Aktif berkomunikasi dengan keluarga besar terutama keluarga inti suami

IBU (anak 1 umur 18 bulan)
- agama:
1. Membaca doa & melantunkan ayat suci menjelang tidur
2. Mengenalkan kecintaan pada Allah & Islam dengan bercerita
3. Membiasakan sunnah Rasul di setiap aktivitas

- kesehatan:
1. Menjaga asupan nutrisi & gizi anak setiap hari
2. Mengontrol pertumbuhan anak setiap bulan ke posyandu/DSA
3. Mengajak berenang 2 minggu sekali
4. Meneruskan menyusui sampai tuntas 2 tahun

- pendidikan:
1. Membacakan cerita edukatif menjelang tidur malam
2. Mengajak belajar setiap hari lewat permainan yang menstimulus perkembangan anak
3. Melatih kemandirian anak untuk mengerjakan 1 aktivitas practical life skill 2 hari sekali

Bantu do'a yaa semoga semuanya bisa tercapai dan benar-benar terealisasi :)

Friday, January 27, 2017

Tugas NHW dari Matrikulasi Institut Ibu Profesional batch 3

Amanah baru menjadi Ibu membuat saya harus banyak belajar agar bisa menjadi sebaik-baiknya Ibu.
Salah satu ikhtiar yang saya lakukan adalah dengan mengikuti program matrikulasi menjadi Ibu profesional yang dipelopori oleh Bu Septi Peni, tokoh Ibu yang saya ingin banyak belajar dari beliau.

Matrikulasi ini para peserta mendapat tugas-tugas yang harus dikerjakan.
Saya paham pemberian tugas tidak bermaksud membebani, justru tugas diperlukan agar kita berusaha mempraktekkan ilmu-ilmu yang diberikan.

Tugas pertama dibagi menjadi beberapa pertanyaan yang temanya seputar adab mencari ilmu. Berikut pertanyaan dan jawaban versi saya :)

1. Ilmu apa yang ingin ditekuni dalam universitas kehidupan ini?
Sudah sangat lama saya ingin memperdalam ilmu psikologi.

2. Mengapa memilih ilmu ini?
~ Karna saya sangat ingin mengenal diri saya sendiri. Sebagaimana yang banyak diinfokan oleh para pakar bahkan dalam ayat suci Al-Qur'an, bila kita mengenal diri sendiri, kita akan tau sebagai diri kita terbaik yang mana yang akan mengantarkan kita pada sebaik-baik hamba. Tentunya juga agar kita tau ada di posisi mana kita akan berkontribusi ummat.
~ Alhamdulillah, saya memiliki kompetensi interpersonal, bisa memahami orang dan karakternya. Untuk itu ilmu psikologi ingin saya perdalam agar saya bisa membantu orang banyak mengenali dirinya sendiri.
~ Sehari-harinya juga ilmu psikologi sangat dibutuhkan dalam berinteraksi dengan orang lain. Serta tentunya sangat bermanfaat diaplikasikan untuk mendidik anak, dimana menurut saya, ilmu parenting berakar dari ilmu psikologi juga.
~ Dalam jangka pendek ilmu ini akan saya perlukan untuk profesi saya sebagai marketer, agar lebih dapat mengenali konsumen/pasar.

3. Bagaimana strategi dalam menuntut ilmu ini?
Saya urutkan dari yang paling mudah dan cepat dijangkau:
1. Belajar via internet
2. Membaca buku-buku terkait
3. Berkenalan dengan pakar atau minimal lulusan psikologi
4. Untuk jangka panjang bila Allah memberi kesempatan dan semuanya sudah kondusif, saya berniatan melanjutkan jenjang studi jurusan psikologi.

4. Berkaitan dengan adab menuntut ilmu,perubahan sikap apa saja yang akan diperbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut?
~ Berusaha membersihkan hati dengan ikhlas agar ilmu yang dipelajari bisa meraih ridhoNya.
~ Berusaha bergegas saat ada majelis-majelis ilmu.
~ Menjaga dan merawat sumber ilmu dengan baik.

Sekian tugas NHW 1, semoga apa yang saya tuliskan bisa menjadi do'a dan bisa saya terapkan dengan baik :)