✨Tantangan Pengasuhan Sepanjang Masa✨
.
Oleh: Isnawati Eka Lestari
.
Tahukah bu?
Di zaman manapun sebetulnya ada tantangan pengasuhan yang sama.
Walau banyak yang berkata pengasuhan zaman ini lebih banyak tantangan, ya dunia hiburannya, belum lagi tingginya kriminalitas, atau mungkin masalah pemerintahnya.
Padahal di balik itu semua, ada tantangan yang sejak dulu dan sampai kapanpun akan hadir mengintai, yaitu: "diri sendiri".
Anak-anak kita pertama kali berhadapan dengan diri kita, orang tuanya.
Tak perlu jauh berpikir bagaimana lingkungan bermain atau sekolahnya nanti apakah akan mendukung perkembangannya jadi semakin baik.
Pertama kali, lihat lah ke dalam diri, kita lah yang pertama kali akan berinteraksi dengan mereka.
...
Sadarkah bu?
Bisa jadi pengelolaan emosi kita lah yang membuat anak juga kurang bisa mengontrol emosi dirinya saat dewasa kelak.
Ingatkah bu?
Sudah berapa banyak bentakan atau kemarahan yang terlepas di depan anak sendiri, lalu seringnya saat mereka tertidur, kita menyesal ingin menarik semua amarah tadi.
Cukupkah bu?
Bila anak kita diasuh oleh diri kita yang sering kalah dengan rasa malas, mengizinkan hal-hal yang kita paham teorinya tidak boleh, tapi kita tak kuasa berjuang menghadapi rasa malas itu.
Aahh bu.. Rasanya sebelum ada istilah anak durhaka, lebih dulu seharusnya kita mengevaluasi diri apakah jangan-jangan kita lah yang mendurhakai anak-anak kita?
Belum lagi sebagian dari kita ada yang pernah mengalami trauma pengasuhan.
Yang menyadari cara mengasuh orang tua kita dulu itu banyak keliru, lalu kita berniat tak akan melakukannya.
Nyatanya sering dari kita yang justru meng-copy paste apa yang pernah kita alami saat diasuh dulu yang akhirnya akan me-mata rantai-kan kembali siklus pengasuhan itu.
Maka benar bila ada beberapa pakar yang berkata trauma pengasuhan masa lalu harus segera diselesaikan, tuntas secepat mungkin, sebelum semuanya terlambat, sebelum hanya penyesalan mendalam yang akan kita rasa.
Mari bu.. Kita banyak berbenah, kita kelola lagi diri kita sendiri, kita sama-sama berjuang memberikan diri kita "versi terbaik" di hadapan anak-anak.
Bila butuh bantuan, cari lah bu, ceritakan, tuntaskan, mintalah yang lebih ahli menyembuhkan berbagai trauma atau segala emosi negatif yang masih dirasa.
Agar kelak, hanya diri kita versi terbaik lah yang akan anak-anak sambut.
Agar nanti, segala pembelajaran dan ilmu pengasuhan akan bisa dengan mudah kita aplikasikan tanpa harus terhalang emosi dan rasa malas yang sering menghambat terlaksananya semua itu.
Agar di masa depan, kita akan saksikan anak kita tumbuh dengan penuh kebaikan, penuh kasih sayang, dan tercukupi segala kebutuhannya serta haknya dengan sebaik-baiknya.
Dari tangan kita, dari hasil didikan kita, dari seluruh penjiwaan kita sebagai seorang ibu, sang pembangun peradaban.
-end-
Note:
Tulisan ini saya buat sebagai pengingat saya pribadi, betapa saya sadar, saya berperan sebagai pendidik utama yang akan menentukan sebagus apa perkembangan anak-anak kelak.
Dan tentu saya juga ingin para ibu lainnya sama-sama segera berjuang memperbaiki diri sendiri agar kita bangun generasi yang lebih unggul, dunia+akhirat 🙂
No comments:
Post a Comment